Perjumpaan dengan Mereka...


Dwito, Jenny, Adi, Kintari, Steven, Davin....

Akhirnya, saya berjumpa dengan mereka setelah dua tahun saya menghilang begitu saja. Berawal dari sebuah ajakan dari Dwito, perjumpaan dengan mereka terjadi. Kalau boleh jujur, saya cukup bersemangat untuk berjumpa dengan mereka. Lama tak jumpa menyimpan sejuta tanda tanya dalam diri saya akan mereka. Mulai dari hal superfisial hingga menuju ke kedalaman, rasanya saya ingin bertanya itu semua pada mereka. Namun saya tahu, semua tanda tanya itu hanyalah tanda tanya kecil dari sebuah tanda tanya sederhana besar yang berbunyi; Bagaimana keadaan mereka setelah dua tahun tidak jumpa?


Bagaimana keadaan mereka setelah dua tahun tidak jumpa?  Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam dua tahun, mereka hidup dalam jalan yang telah mereka pilih masing-masing. Jalan yang merubah mereka satu per satu menjadi pribadi yang baru. Mereka bukan lagi orang yang sama dengan orang yang saya kenal dahulu. Setidaknya menurut apa yang saya rasakan saat itu. Davin kini semakin modis dan stylish. Steven makin kritis dalam segala percakapan, kendati hingga detik ini saya masih tidak tahu apa yang ia kritisi (^_^"). Kintari makin mandiri dan mengayomi; kini ia sudah bisa naik mobil sendiri, bahkan menjadi sopir bagi saya dan Jenny. Adi makin tinggi dan tidak pelit duit lagi; dia bersedia membayari uang bebek goreng saya dengan suka tapi ga rela. Jenny makin modis dan dewasa; banyak cerita darinya yang menginspirasi saya untuk makin LIVESTRONG. Dwito makin dewasa dan makin gaul saja; kini dia bisa main ice skating lantaran jadi anak gaul.

Mereka berubah, namun mereka tetaplah orang yang sama. Mereka tetaplah mereka, para manusia ajaib yang diberikan Tuhan untuk menemani hidup saya. Davin masihlah seorang Davin dengan cara berjalan mantul-mantulnya yang khas dan care pada para wanita; dia memberi 'kado kecil' dari Negeri Sakura untuk Jenny dan Kintari di depan mata saya (-__-"). Steven masihlah seorang Steven yang hidupnya super duper (sok) sibuk, dengan filosofi yang absurd dan ga penting; dia jadi ketua senat sekaligus ketua OSPEK saya kelak. Kintari masihlah seorang Kintari dengan tingkat kegilaan jauh di atas ambang batas sehingga mampu membuat semua orang di sekitarnya mampu menertawakan dunia; Wat ju gat? Wat ju gat? Du it dat dessert!!! Adi masihlah seorang Adi, yang malu tapi mau dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak dan random  sekali; ""Gue mau maen ice skating dah, Bet." Jenny masihlah seorang Jenny yang teledor; dia memukul MESIN punch di GameZone!!!, dan kakak yang perhatian tapi manja (lucu); "Ini tangan gue ga retak kan, Bet?". Dwito masihlah seorang Dwito yang mampu membuat semua orang berkumpul dan menikmati dunia bersama. Ya, manusia yang satu ini tetaplah seorang leader yang mengajak semua orang berjalan bersama-sama dengannya; "Ayo Ice Skating-an!!!"

Mereka tetaplah mereka. Dari mana saya tahu? Entahlah... Mungkin dari sebuah pengalaman perjumpaan itu. Mungkin dari tawa dan canda yang memenuhi mall Sabtu itu. Atau mungkin dari senyum dan tatapan mereka yang memenuhi ruang batin saya. Saya tidak tidak tahu dan tidak peduli dengan hal itu.

Mereka tetaplah mereka. Mereka tetaplah sahabat saya. Sahabat yang menerima kerapuhan saya dalam banyak rupa; menghilang begitu saja dua tahun tanpa berita yang jelas, yang sampai detik ini masih sulit dikontak lantaran hidup dalam sebuah keteraturan yang antimainstream, yang tidak asik diajak bicara tentang hal yang berbau kekinian, etc. 
Untuk kesekian kalinya, mereka membuat saya semakin bersyukur akan hidup saya yang rapuh ini sebab melalui kerapuhan inilah, saya berjumpa dengan mereka dan mampu tertawa -atau setidaknya, tersenyum simpul bersama.

Kepada mereka dan Tuhan yang telah menitipkan sedikit diri saya pada mereka di masa lalu, saya hanya bisa berkata...
                                                                                                   ...Terima kasih.

Komentar

Postingan Populer