DRUPADI: tentang AMARAH seorang Wanita

"Drupadi" 

Siapakah yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambatunya yang panjang ke balairung perjudian? Semua! Semua mendengar! Tapi tak ada yang menolongnya. Pandawa lima yang telah jadi babu diam membisu. Para raja diam membatu. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa dengan malapetaka yang baru saja terselenggara; Pandawa kalah berjudi dengan Kurawa. Harta benda telah ludes. Kerajaan telah terambil. Diri mereka telah disita, mereka bukan lagi orang merdeka. Lalu, Drupadi, putri Pancala yang terhormat itu... Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting oleh putra Pandu yang sedang dungu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh tuak, oleh kemenangan, oleh berahi, menyeret rambutnya. Katanya, Budak! Layani aku, asu! Suara tertawa terdengar di antara hadirin. Kurawa tertawa. Sengkuni tertawa. Duryudana tertawa. Burisawa tertawa. Semua berpesta dalam nafsu dan dosa tanpa tahu bahwa Bhatara Yama akan menjemput mereka kelak di Padang Kuruseta. Dan semua itu terjadi karena sumpah dari Sang Putri Pancala, yang rambutnya merah karena amarah...

Komentar

Postingan Populer