Sebuah Alasan...
Sudah lama saya tidak menulis...
Aneh rasanya kembali melihat laman ini. Harus saya akui, saya hampir lupa bahwa saya punya sebuah buku di dunia maya. Mungkin itu adalah alasan mengapa lama saya tidak menulis lagi di dunia maya.
LUPA...
Sebuah alasan klasik bagi jenis manusia macam saya: manusia yang malas berpikir. Kenapa saya lupa? Pertanyaan itulah yang kemudian coba saya jawab sendiri. Kembali, karena saya malas berpikir atau mungkin tak punya pikiran itu sendiri, saya tidak bisa menjawabnya. Yang saya temukan justru alasan-alasan yang seharusnya membuat saya mampu menulis dengan adiksi lagi.
Ada banyak kegiatan dan agenda yang saya lakukan bulan-bulan ini. Terlalu banyak pengalaman yang menjemput saya dan menunggu untuk lahir dalam deretan kata-kata. Seperti biasanya. Baru saja saya kembali kuliah: berjumpa dengan rekan seperjuangan, melihat semangat para mahasiswa baru yang masih lugu. Sebelumnya, saya baru saja menjalani serangkaian agenda kerja yang kelak menentukan masa depan saya: rapat dengan para senior, pertemuan dengan Jendral yang menyempatkan diri mampir ke Indonesia. Ada pula agenda di mana saya bersentuhan langsung dengan mereka yang tersingkir dari dunia yang selama ini saya kenal: hidup-tinggal-bekerja bersama para nelayan miskin, namun kaya makna, di daerah Utara Ibukota. Ya, ada banyak kegiatan dan agenda yang saya lakukan selama ini. Terlalu banyak. Dan semua itu SEHARUSNYA membuat saya mampu menulis kembali. Karena mereka semua bermakna. Mereka semua menunggu untuk terlahir dalam kata-kata. Namun sayangnya, asya tidak melakukannya. Tidak pernah.
KENAPA???
Saya sengaja lupa. Saya tidak melihat laman ini lagi. Saya tidak menulis lama sekali. Karena saya merasa semua tidak lagi sama. Dulu saya menulis karena seseorang menulis terlebih dahulu untuk saya. Dulu saya menulis karena saya ingin bercerita padanya sebagai bentuk balasannya. Dulu saya menulis karena dunia terlihat penuh warna bersamanya. Dulu saya menulis karena inspirasi yang hadiri daripadanya. Dulu saya menulis karena dirinya.
Seseorang yang kini entah di mana...
Aneh rasanya kembali melihat laman ini. Harus saya akui, saya hampir lupa bahwa saya punya sebuah buku di dunia maya. Mungkin itu adalah alasan mengapa lama saya tidak menulis lagi di dunia maya.
LUPA...
Sebuah alasan klasik bagi jenis manusia macam saya: manusia yang malas berpikir. Kenapa saya lupa? Pertanyaan itulah yang kemudian coba saya jawab sendiri. Kembali, karena saya malas berpikir atau mungkin tak punya pikiran itu sendiri, saya tidak bisa menjawabnya. Yang saya temukan justru alasan-alasan yang seharusnya membuat saya mampu menulis dengan adiksi lagi.
Ada banyak kegiatan dan agenda yang saya lakukan bulan-bulan ini. Terlalu banyak pengalaman yang menjemput saya dan menunggu untuk lahir dalam deretan kata-kata. Seperti biasanya. Baru saja saya kembali kuliah: berjumpa dengan rekan seperjuangan, melihat semangat para mahasiswa baru yang masih lugu. Sebelumnya, saya baru saja menjalani serangkaian agenda kerja yang kelak menentukan masa depan saya: rapat dengan para senior, pertemuan dengan Jendral yang menyempatkan diri mampir ke Indonesia. Ada pula agenda di mana saya bersentuhan langsung dengan mereka yang tersingkir dari dunia yang selama ini saya kenal: hidup-tinggal-bekerja bersama para nelayan miskin, namun kaya makna, di daerah Utara Ibukota. Ya, ada banyak kegiatan dan agenda yang saya lakukan selama ini. Terlalu banyak. Dan semua itu SEHARUSNYA membuat saya mampu menulis kembali. Karena mereka semua bermakna. Mereka semua menunggu untuk terlahir dalam kata-kata. Namun sayangnya, asya tidak melakukannya. Tidak pernah.
KENAPA???
Saya sengaja lupa. Saya tidak melihat laman ini lagi. Saya tidak menulis lama sekali. Karena saya merasa semua tidak lagi sama. Dulu saya menulis karena seseorang menulis terlebih dahulu untuk saya. Dulu saya menulis karena saya ingin bercerita padanya sebagai bentuk balasannya. Dulu saya menulis karena dunia terlihat penuh warna bersamanya. Dulu saya menulis karena inspirasi yang hadiri daripadanya. Dulu saya menulis karena dirinya.
Seseorang yang kini entah di mana...
Alasan saya menulis hilang bersamaan dengan ketiadaannya.
Ketiadaannya membuat saya terluka.
Ketiadaannya mebuat saya sengaja lupa.
Saya tahu dia masih ada. Namun meskipun dia masih ada...
Semua tak 'kan pernah lagi sama...
Semua berbeda...
Dan saya sengaja lupa.
Komentar
Posting Komentar