Danilla, Saya, dan Sesuatu-Yang-Disebut "UAS"
Akhir-akhir ini saya tidak pernah sendiri.
Hari-hari saya selalu diisi oleh seorang gadis bernama Danilla...
... atau lebih tepatnya, suara merdu milik Danilla. Yap, hari-hari ini saya sedang "gandrung" menikmati lagu-lagu dari Danilla. Pada dasarnya saya memang penikmat lagu-lagu indie, macam Endah 'n Rhesa dan teman-teman sejawatnya. Namun untuk dara yang satu ini, harus saya akui, saya jatuh cinta dengan segala yang dibawakannya dalam sebuah musik: suara-nada-melodi-kata-sampai bahkan makna. GILA! Saya tak pernah merasa 'gandrung' dengan seorang penyanyi sampai seperti ini dan Danilla... You did it to me, Girl!
Kenapa saya bisa sampai jatuh hati pada lagu-lagu Danilla? Saya tidak tahu pasti. Bukankah hati punya logikanya sendiri? Tapi kalau boleh logika hati dimanifestasi dalam kata-kata di sini, mungkin karena lagu-lagu milik Danilla dekat dengan saya. Seakan merepresentasikan saya dan segala yang ada di benak saya, yang bahkan tidak saya sadari sebelumnya. Saya merasa dekat dengan lagu-lagu yang dibawakan Danilla; entah dari sisi lirik atau melodi-nada.
Lagu-lagu Danilla yang dekat dengan saya itu jika bisa saya ringkas dengan satu kata, saya akan memberi kata "DEPRESI". Entah kenapa lagu-lagunya saya merasa lagu-lagu Danilla merupakan representasi dari rasa depresi manusia biasa; dikhianati, putus asa, kehilangan, sakit, dan sebagainya. Yang hebatnya, rasa itu keluar menjadi sebuah energi kreatif dalam bentuk musik. Musik yang bercita rasa depresi: tidak pernah ada nasihat untuk apa harus keluar dari rasa depresi itu. Seakan oleh Danilla, saya diajak hanya menikmati rasa-rasa depresi saya dan "Dance together with them!" Gila gak?! Mungkin itu yang membuat saya lantas jatuh hati pada Danilla dan lagu-lagunya.
Jika lagu-lagu Danilla adalah lagu 'depresi' dan saya merasa dekat dengan lagu-lagu tersebut berarti saya sedang depresi (?) Yap, saya depresi akhir-akhir ini. Ujian akhir semester ketiga sedang saya lalui. Tidak banyak, hanya empat ujian dalam waktu dua minggu. Tidak banyak, hanya berat! Semester tiga ini bukan semester yang menarik untuk saya lalui dalam sisi mata kuliah. Banyak mata kuliah yang saya ambil lantaran mengikuti paket yang sudah disediakan saja. Tidak menarik. Parahnya dari saya, saya terlalu moody... Jika sudah tak tertarik, semua membosankan untuk dilakukan, termasuk ujian. Saya merasa depresi lantaran sikap bodoh saya selama ini. Satu semester saya lalui begitu saja tanpa dapat apa-apa. Depresi lantaran kini harus menjalani karma; ujian tanpa isi di kepala... Hah! Saya bisa gila! Lebih baik mendengarkan Danilla saja dan melangkah terseok bersamanya diburu waktu :)
Hari-hari saya selalu diisi oleh seorang gadis bernama Danilla...
... atau lebih tepatnya, suara merdu milik Danilla. Yap, hari-hari ini saya sedang "gandrung" menikmati lagu-lagu dari Danilla. Pada dasarnya saya memang penikmat lagu-lagu indie, macam Endah 'n Rhesa dan teman-teman sejawatnya. Namun untuk dara yang satu ini, harus saya akui, saya jatuh cinta dengan segala yang dibawakannya dalam sebuah musik: suara-nada-melodi-kata-sampai bahkan makna. GILA! Saya tak pernah merasa 'gandrung' dengan seorang penyanyi sampai seperti ini dan Danilla... You did it to me, Girl!
Kenapa saya bisa sampai jatuh hati pada lagu-lagu Danilla? Saya tidak tahu pasti. Bukankah hati punya logikanya sendiri? Tapi kalau boleh logika hati dimanifestasi dalam kata-kata di sini, mungkin karena lagu-lagu milik Danilla dekat dengan saya. Seakan merepresentasikan saya dan segala yang ada di benak saya, yang bahkan tidak saya sadari sebelumnya. Saya merasa dekat dengan lagu-lagu yang dibawakan Danilla; entah dari sisi lirik atau melodi-nada.
Lagu-lagu Danilla yang dekat dengan saya itu jika bisa saya ringkas dengan satu kata, saya akan memberi kata "DEPRESI". Entah kenapa lagu-lagunya saya merasa lagu-lagu Danilla merupakan representasi dari rasa depresi manusia biasa; dikhianati, putus asa, kehilangan, sakit, dan sebagainya. Yang hebatnya, rasa itu keluar menjadi sebuah energi kreatif dalam bentuk musik. Musik yang bercita rasa depresi: tidak pernah ada nasihat untuk apa harus keluar dari rasa depresi itu. Seakan oleh Danilla, saya diajak hanya menikmati rasa-rasa depresi saya dan "Dance together with them!" Gila gak?! Mungkin itu yang membuat saya lantas jatuh hati pada Danilla dan lagu-lagunya.
Jika lagu-lagu Danilla adalah lagu 'depresi' dan saya merasa dekat dengan lagu-lagu tersebut berarti saya sedang depresi (?) Yap, saya depresi akhir-akhir ini. Ujian akhir semester ketiga sedang saya lalui. Tidak banyak, hanya empat ujian dalam waktu dua minggu. Tidak banyak, hanya berat! Semester tiga ini bukan semester yang menarik untuk saya lalui dalam sisi mata kuliah. Banyak mata kuliah yang saya ambil lantaran mengikuti paket yang sudah disediakan saja. Tidak menarik. Parahnya dari saya, saya terlalu moody... Jika sudah tak tertarik, semua membosankan untuk dilakukan, termasuk ujian. Saya merasa depresi lantaran sikap bodoh saya selama ini. Satu semester saya lalui begitu saja tanpa dapat apa-apa. Depresi lantaran kini harus menjalani karma; ujian tanpa isi di kepala... Hah! Saya bisa gila! Lebih baik mendengarkan Danilla saja dan melangkah terseok bersamanya diburu waktu :)
Komentar
Posting Komentar