Permenungan di Geladak

-Dancing Shadow-
Photo by Cavin [Anyer, January 21st 2018]
Sudah berapa lama saya [merasa] kesepian seperti ini?

Sebuah pertanyaan muncul dalam benak saya ketika saya tengah berlibur ke sebuah pantai di ujung barat Pulau Jawa; Sudah berapa lama saya [merasa] tidak kesepian seperti ini? Harus saya akui, cukup lama saya merasa tidak sepi macam ini. Hidup saya kini terlalu ramai. Hinggar binggar di sana sini.

Kenapa? Karena saya sudah tua. Menjadi tua berarti hidup dan tenggelam dalam realitas dunia di mana seorang manusia berada. Saya kini tengah berada di Ibukota. Tempat di mana selama dua puluh empat jam kali tujuh hari tidak akan pernah ada spasi untuk sekedar mengedipkan mata. Semua mata selalu terbangun di sini. Kedip sedikit, saya tidak akan tertinggal jauh dari manusia sekitar. Tertinggal berarti mati. Tertinggal berarti sendiri. Tertinggal berarti tidak pernah berada karena kehilangan eksistensi. Kejam, memang, tapi inilah Ibukota. Selamat datang dalam miniatur kekejaman dunia! Hahaha

Mungkin karena semua keramaian dan kesibukan itulah, saya tidak pernah merasa sepi. Selalu ada saja pikiran yang menghinggapi. Menggoda saya untuk tetap terjaga dan berada di yang fana. Bagus, memang. Saya jadi tidak pernah tertinggal dari manusia sekitar. Namun saya menyadari diri saya bukan bagian dari mereka; dunia, khalayak, dan yang fana. Saya berbeda. Saya lahir dari dan di sebuah kesepian. Saya diasuh dan diberi asupan gizi oleh kesepian itu sendiri. Saya ditempa oleh kesepian. Saya jadi pribadi yang menikmati kesepian sebagai sebuah rumah untuk pulang. Kesepian adalah sebuah jati diri bagi saya, kini. Jati diri yang kini hilang lantaran dunia tua yang memaksa saya untuk terus meninggalkannya seorang diri. Katanya, demi kebaikan bersama manusia dunia. Kebaikan bersama, yang mengerogoti jiwa yang kontradiktif dengannya. Hahaha...

Mungkin karena itu, di ujung barat Pulau Jawa. Di tempat yang seharunsnya menjadi tempat perjumpaan para jiwa yang menuntut saya keluar ke dunia, saya memilih untuk mencari tempat sepi untuk menyepi. Saya tahu pilihan ini tidak tepat. Tapi saya butuh itu. Saya butuh itu untuk kembali menemukan diri saya yang kini hilang. Hanyut oleh sesuatu yang tak pernah saya tahu, meski saya berusaha untuk tahu.


                                                                                                                                     -Medio Januari

Komentar

Postingan Populer