KENAPA HARUS SAYA?

“Kenapa harus saya?”
Sebuah pertanyaan
mencuat begitu saja di dalam benak saya ketika saya ditunjuk memerankan salah
satu tokoh dalam pagelaran teater untuk acara kampus. Waktu itu bulan Januari,
kalau tidak salah. Saya bertanya-tanya bukan karena saya tidak mau ber-teater
ria. Saya mau. Tapi untuk memerankan sosok tokoh yang memiliki banyak adegan,
dialog, dan karismatik… Jujur saja, saya merasa tidak layak.
Saya
merasa tidak layak. Selama semester ganjil, saya telah melihat banyak teman
saya yang punya kualitas dan komitmen yang jauh di atas saya dalam dunia
teater. Mereka punya sesuatu yang tidak saya punya: gairah untuk berkarya dan
sebuah idealisme berfilsafat dalam seni peran. Saya? Saya ada di sana cuma
karena suka, cinta, dan sedikit paksa dari ketua Senat Mahasiswa. Mereka yang
saya temani selama semester ganjil lebih layak dibanding saya. Mereka lebih
banyak yang punya karisma untuk bermain banyak laga di panggung sana. Mereka lebih
banyak punya tenaga untuk latihan selama berjam-jam tanpa memikirkan dinamika
lain yang menanti untuk diselesaikan. Mereka lebih banyak punya pengalaman yang
tidak pernah saya rasakan di dunia seni peran. Mereka, intinya, lebih
berkualitas daripada saya. Itu saja…
![]() |
| Rob-Aldi-Sonny-Markus |
Tapi saya
tetap dipilih. Saya tetap ditunjuk. Saya tetap memerankan sang komandan dalam
pentas teater itu. Harus saya akui, meski sudah berlatih berulang kali. Meski sudah
mencoba menegapkan diri. Meski sudah mencoba mengimitasi. Saya tetap merasa
gagal memerankan seorang komandan. Saya merasa diri saya adalah seorang
pemimpin yang tidak punya visi dan suka meledak seenak diri. Seorang pemimpin
yang tidak punya kontrol bagi diri maupun seluruh negeri. Seorang pemimpin yang
tidak punya hati. Seorang pemimpin yang gila kekuasaan dan harta gono-gini. Itu
adalah sosok pemimpin yang saya perankan dan tunjukkan di atas laga saat itu.
| Watashi wa Kami-Sama!!! |
Tapi tetap
saja, sebuah pertanyaan masih menghinggapi diri saya:
“Kenapa harus saya?”
![]() |
| Dies Natalis STFD 49 Crews |


Komentar
Posting Komentar