isi kepala saya semalam
Semalam saya tidak bisa tidur...
Bukan karena sibuk memahami tesis Viktor E. Frankl mengenai eksistensi dan esensi manusia seperti biasanya. Saya tidak tidak bisa tidur karena ada sesuatu yang menganggu pikiran saya. Sesuatu yang memenuhi isi kepala saya. Bodohnya, saya tidak tahu apa itu.
Dalam kebingungan yang bercampur kebodohan, saya teringat hidup saya selama ini. Entah mengapa, saya tertawa sendiri menyadari betapa hidup saya dipenuhi dengan perjalanan. Ya, saya sudah terbiasa menjadi seorang peziarah. Jalan, malam, bus antarkota, kereta api, terminal, stasiun, pengamen, oborolan panjang dengan orang tak dikenal... Itu semua sudah menjadi bagian dalam hidup saya.
Dulu saya tidak tahu mengapa saya memilih menjalani hidup macam itu. Berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Mengasingkan diri dari orang-orang yang saya kenali. Mengejar ambisi yang tidak pernah banyak orang pahami. Saya tidak pernah tahu. Saya tidak pernah paham dengan diri saya sendiri yang telah memilih hidup macam ini. Yang saya tahu, saya menikmati hidup macam itu. Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan.
Ya, hidup saya adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan. Bukan karena dipenuhi hura-hura dan pesta. Hidup saya menyenangkan karena banyak hal tak terduga yang saya jumpai di sana. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasakan betapa bahagianya disambut di depan pintu. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya melihat diri saya tertawa dengan banyak sahabat. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya melihat diri saya rindu pada keluarga. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya melihat air mata keluar dari mata saya karena perpisahan yang tak terduga. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menemukan arti rumah yang sesungguhnya.
Semua itu saya dapatkan bukan tanpa bayaran. Di balik kebahagiaan yang saya rasa, ada banyak hal yang harus saya korbankan. Pengorbanan yang entah bagaimana sering saya sesali hingga saat ini. Jika ada mesin pemutar waktu, terkadang saya ingin memperbaiki. Terlalu banyak hal yang harus saya korbankan demi pilihan ini. Salah satunya, saya harus mengorbankan seseorang yang berarti...
Namanya Jennifer Hartanto...
Jenny adalah salah satu pengorbanan terbesar yang pernah saya buat dalam hidup ini. Jenny adalah salah satu pengorbanan yang terkadang ingin saya perbaiki. Jenny bukanlah siapa-siapa, memang. Dia hanyalah seorang gadis biasa yang tak sengaja saya jumpa di masa remaja saya. Tidak ada yang istimewa daripadanya. Dia tak secantik si gadis kuncir ekor kuda yang pernah saya suka. Penampilannya sederhana, cenderung apa adanya. Dia bukan gadis populis yang sibuk merawat diri demi sensasi. Dia juga bukan orang yang berambisi dengan nilai dan prestasi. Dia sederhana. Dia biasa. Dia apa adanya. Itu saja.
Tidak ada yang istimewa dari Jenny, namun tidak bagi diri saya pribadi.
Bagi saya, Jenny-lah yang membuat saya menyadari betapa berharganya hidup saya sebagai sebuah perjalanan. Jenny-lah yang membuat saya merasakan rasa rindu untuk kembali. Jenny-lah yang membuat saya selalu memandangi gelang kuning di tangan kiri setiap malam hari. Jenny-lah yang sering membuat bibir saya yang kaku tersimpul malu. Jenny-lah yang membuat saya melihat betapa indahnya dunia melalui cerita-ceritanya yang sederhana. Jenny-lah yang membuat saya merasa nyaman dalam pelukan maupun dekapan. Jenny-lah yang membuat saya sering melupakan kantuk karena tatapan mata yang unik dan menarik. Jenny-lah yang membuat saya menyadari betapa membahagiakannya pertemuan bulan Juni dan Januari.Jenny jugalah yang membuat saya untuk memberanikan diri melanjutkan perjalanan saya yang tak ada henti.
Tidak ada yang istimewa dari Jenny, tapi dia membuat saya merasakan betapa bahagianya dicintai.
Bukan cinta yang biasa dipahami banyak manusia karena konsepsi media. Cinta yang tak pernah mampu dipahami sampai mereka mengalaminya sendiri. Saya sendiri baru memahaminya saat merasakannya. Saya baru memahaminya ketika malam itu tiba di hadapan saya. Malam yang tiba 2 tahun lalu sebelum saya menghilang sejenak dari dunia. Malam yang terwujud dalam kata-kata terdalam Jenny di dunia maya.
Saya masih ingat, saat itu Jenny menuliskan semacam surat perpisahannya pada saya. Ia menuliskan perasaannya yang terdalam pada saya; rasa bingung, sedih, tidak paham. Jenny menuliskan rasa sakitnya ditinggal saya lagi-lagi-dan lagi. Saat itu saya hanya bisa terdiam membaca perasaannya. Entah mengapa, rasa sakit Jenny seperti saya rasakan dalam hati saya... saat itu...
Namun Jenny tidak berhenti sampai di situ. Ia melanjutkan kata-kata dengan dukungan yang tak pernah saya duga. Lebih dari itu, Jenny bahkan mampu melihat makna dibalik rasa sakit akibat perjalanan saya. Jenny mampu mengalahkan dirinya demi diri saya. Jenny rela untuk tak berjumpa lagi dengan saya demi hal yang ia sendiri tak pernah pahami. Dia mengorbankan dirinya untuk pilihan yang telah saya buat...
Kini posisi kami tengah berbalik. Jenny akan memulai perjalanannya sendiri, meninggalkan saya di sini. Entah bagaimana, saya merasakan rasa sakit yang aneh. Mungkin karena sekarang saya yang harus merelakannya pergi berjalan meraih mimpi. Jujur saja, ada bagian dalam diri yang tidak ingin ini semua terjadi. Bagian diri yang ingin terus Jenny ada di sisi sehingga bisa saya ajak pergi dengan vespa tuadan surat izin mengemudi yang baru saya dapatkan kemarin. Bagian dalam diri yang terus merindukan bulan Juli dan Januari untuk berjumpa kembali. Agak naif memang dan itulah bagian diri saya. Namun, Jenny sudah memutuskan. Pilihan sudah ia tetapkan. Saya tidak punya pilihan lain selain menerima dan merelakannya, sebagaimana yang Jenny lakukan dahulu; mendoakan, dan menunggu dengan setia. Ya... Kini giliran saya untuk melakukannya; mendoakan dan menunggu Jenny dengan setia, sembari merawat vespa tua untuk menjemputnya kelak...
Bukan karena sibuk memahami tesis Viktor E. Frankl mengenai eksistensi dan esensi manusia seperti biasanya. Saya tidak tidak bisa tidur karena ada sesuatu yang menganggu pikiran saya. Sesuatu yang memenuhi isi kepala saya. Bodohnya, saya tidak tahu apa itu.
Dalam kebingungan yang bercampur kebodohan, saya teringat hidup saya selama ini. Entah mengapa, saya tertawa sendiri menyadari betapa hidup saya dipenuhi dengan perjalanan. Ya, saya sudah terbiasa menjadi seorang peziarah. Jalan, malam, bus antarkota, kereta api, terminal, stasiun, pengamen, oborolan panjang dengan orang tak dikenal... Itu semua sudah menjadi bagian dalam hidup saya.
Dulu saya tidak tahu mengapa saya memilih menjalani hidup macam itu. Berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Mengasingkan diri dari orang-orang yang saya kenali. Mengejar ambisi yang tidak pernah banyak orang pahami. Saya tidak pernah tahu. Saya tidak pernah paham dengan diri saya sendiri yang telah memilih hidup macam ini. Yang saya tahu, saya menikmati hidup macam itu. Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan.
Ya, hidup saya adalah sebuah perjalanan yang menyenangkan. Bukan karena dipenuhi hura-hura dan pesta. Hidup saya menyenangkan karena banyak hal tak terduga yang saya jumpai di sana. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasakan betapa bahagianya disambut di depan pintu. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya melihat diri saya tertawa dengan banyak sahabat. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya melihat diri saya rindu pada keluarga. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya melihat air mata keluar dari mata saya karena perpisahan yang tak terduga. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menemukan arti rumah yang sesungguhnya.
Semua itu saya dapatkan bukan tanpa bayaran. Di balik kebahagiaan yang saya rasa, ada banyak hal yang harus saya korbankan. Pengorbanan yang entah bagaimana sering saya sesali hingga saat ini. Jika ada mesin pemutar waktu, terkadang saya ingin memperbaiki. Terlalu banyak hal yang harus saya korbankan demi pilihan ini. Salah satunya, saya harus mengorbankan seseorang yang berarti...
Namanya Jennifer Hartanto...
Jenny adalah salah satu pengorbanan terbesar yang pernah saya buat dalam hidup ini. Jenny adalah salah satu pengorbanan yang terkadang ingin saya perbaiki. Jenny bukanlah siapa-siapa, memang. Dia hanyalah seorang gadis biasa yang tak sengaja saya jumpa di masa remaja saya. Tidak ada yang istimewa daripadanya. Dia tak secantik si gadis kuncir ekor kuda yang pernah saya suka. Penampilannya sederhana, cenderung apa adanya. Dia bukan gadis populis yang sibuk merawat diri demi sensasi. Dia juga bukan orang yang berambisi dengan nilai dan prestasi. Dia sederhana. Dia biasa. Dia apa adanya. Itu saja.
Tidak ada yang istimewa dari Jenny, namun tidak bagi diri saya pribadi.
Bagi saya, Jenny-lah yang membuat saya menyadari betapa berharganya hidup saya sebagai sebuah perjalanan. Jenny-lah yang membuat saya merasakan rasa rindu untuk kembali. Jenny-lah yang membuat saya selalu memandangi gelang kuning di tangan kiri setiap malam hari. Jenny-lah yang sering membuat bibir saya yang kaku tersimpul malu. Jenny-lah yang membuat saya melihat betapa indahnya dunia melalui cerita-ceritanya yang sederhana. Jenny-lah yang membuat saya merasa nyaman dalam pelukan maupun dekapan. Jenny-lah yang membuat saya sering melupakan kantuk karena tatapan mata yang unik dan menarik. Jenny-lah yang membuat saya menyadari betapa membahagiakannya pertemuan bulan Juni dan Januari.Jenny jugalah yang membuat saya untuk memberanikan diri melanjutkan perjalanan saya yang tak ada henti.
Tidak ada yang istimewa dari Jenny, tapi dia membuat saya merasakan betapa bahagianya dicintai.
Bukan cinta yang biasa dipahami banyak manusia karena konsepsi media. Cinta yang tak pernah mampu dipahami sampai mereka mengalaminya sendiri. Saya sendiri baru memahaminya saat merasakannya. Saya baru memahaminya ketika malam itu tiba di hadapan saya. Malam yang tiba 2 tahun lalu sebelum saya menghilang sejenak dari dunia. Malam yang terwujud dalam kata-kata terdalam Jenny di dunia maya.
Saya masih ingat, saat itu Jenny menuliskan semacam surat perpisahannya pada saya. Ia menuliskan perasaannya yang terdalam pada saya; rasa bingung, sedih, tidak paham. Jenny menuliskan rasa sakitnya ditinggal saya lagi-lagi-dan lagi. Saat itu saya hanya bisa terdiam membaca perasaannya. Entah mengapa, rasa sakit Jenny seperti saya rasakan dalam hati saya... saat itu...
Namun Jenny tidak berhenti sampai di situ. Ia melanjutkan kata-kata dengan dukungan yang tak pernah saya duga. Lebih dari itu, Jenny bahkan mampu melihat makna dibalik rasa sakit akibat perjalanan saya. Jenny mampu mengalahkan dirinya demi diri saya. Jenny rela untuk tak berjumpa lagi dengan saya demi hal yang ia sendiri tak pernah pahami. Dia mengorbankan dirinya untuk pilihan yang telah saya buat...
Kini posisi kami tengah berbalik. Jenny akan memulai perjalanannya sendiri, meninggalkan saya di sini. Entah bagaimana, saya merasakan rasa sakit yang aneh. Mungkin karena sekarang saya yang harus merelakannya pergi berjalan meraih mimpi. Jujur saja, ada bagian dalam diri yang tidak ingin ini semua terjadi. Bagian diri yang ingin terus Jenny ada di sisi sehingga bisa saya ajak pergi dengan vespa tuadan surat izin mengemudi yang baru saya dapatkan kemarin. Bagian dalam diri yang terus merindukan bulan Juli dan Januari untuk berjumpa kembali. Agak naif memang dan itulah bagian diri saya. Namun, Jenny sudah memutuskan. Pilihan sudah ia tetapkan. Saya tidak punya pilihan lain selain menerima dan merelakannya, sebagaimana yang Jenny lakukan dahulu; mendoakan, dan menunggu dengan setia. Ya... Kini giliran saya untuk melakukannya; mendoakan dan menunggu Jenny dengan setia, sembari merawat vespa tua untuk menjemputnya kelak...
Jenny...
Selamat memulai perjalananmu sendiri...
Selamat menjadi bule mulai hari ini...
May the Power be with be you...
NB: Keep Contact, ya Jenny
tapi pake bahasa indo, hehe
jemput gue di airport pake vespa ya bet!!!! see you!!! 😚😚😚
BalasHapus