Tentang Bapak

Semua gara-gara hari Sabtu itu. 

Sabtu lalu, saya berkunjung ke rumah Jenny. Ketika kami tengah berkumpul bersama, ayah Jenny muncul. Saya pribadi merasa canggung saat itu karena saya memang bukan tipikal orang yang dekat dengan orang-orang yang lebih tua dan dewasa. Pengalaman masa kecil memaksa saya untuk bersikap hormat cenderung kikuk ketika berhadapan dengan mereka, terutama pengalaman dengan sosok bernama bapak.

Dalam kecanggungan saya -saya tidak tahu bagaimana teman-teman saya menghadapi situasi saat itu, saya merasa kagum dengan ayah Jenny. Ada ketenangan dan kesederhanaan yang membuat saya teringat pada bapak saya. Kekaguman saya bertambah dengan melihat apa yang beliau lakukan. Dalam diam dan tanpa basa-basi, beliau merapikan terpal yang ada di lantai, menjemur cucian, membenarkan jemuran yang terlalu keluar. Intuisi Jenny untuk membantu ayahnya membuat saya semakin kagum dengan hubungan ayah dan anak ini. Jujur saja, saya merasa terharu melihatnya. Entah mengapa, saya hanya bisa terdiam melihat keindahan interaksi mereka berdua. Seperti ada yang saya rindukan di balik pemandangan indah itu.

Semua gara-gara hari Sabtu itu.

Saya merasa tidak bisa konsentrasi untuk hadir dalam pertemuan sepanjang Sabtu karena pemandangan itu. Seperti ada yang membuat saya terlepas dari hiruk-pikuk dunia. Penyakit saya agaknya kambuh. Penyakit untuk larut dalam pikiran pribadi tanpa mengindahkan orang di kanan-kiri. Pikiran yang kali ini saya namakan memori saya akan sosok manusia yang saya rindukan. Pikiran akan hubungan yang tak pernah sampai karena kematian. Pikiran tentang bapak saya dan diri saya sebagai anaknya...

Dan inilah pikiran saya itu...

Pengakuan si Pemberontak

Si Pemberontak
Pernah satu masa di hidup saya, saya adalah manusia yang membenci segala macam aturan. Aturan bagi saya adalah setan. Harus dilawan selagi punya kekuatan. Pernah satu masa di hidup saya, saya adalah manusia yang getol memperjuangkan kemerdekaan sejati. Enggan untuk terikat pada hal-hal yang pasti. Lebih memilih untuk hidup semau diri.
Pernah satu masa di hidup saya, orang mengenal saya sebagai si Pemberontak. Melawan segala aturan demi sesuatu yang disebut kemerdekaan. Banyak hal yang saya lakukan. Mulai dari model di balik layar hingga maju secara frontal. Apa yang saya lakukan mengundang perhatian orang-orang. Ada yang jadi kawan, ada pula yang jadi lawan. Pada masa itu, semuanya nampak sangat menyenangkan. Para lawan sering kelabakan. Mereka merasa kecolongan karena saya dan para kawan selalu berhasil melanggar aturan. Membuat kami ketagihan karena rasanya seperti berada di atas awan.
Tapi tahukah kalian bahwa masa-masa itu merupakan masa di mana saya merasakan kesepian dalam hati? Sebab itu adalah masa di mana saya menolak diri sendiri. Apa yang saya perjuangkan bukan kemerdekaan yang sejati Sebenarnya saya sedang mencari kepingan yang hilang selama ini. Untuk menambal sebuah lubang di hati. Lubang yang mengangga karena luka oleh seseorang di masa lalu. Orang itu bernama ‘Bapak’. 
Bapak
Bapak saya lahir di sebuah desa kecil yang dikelilingi gunung kapur dan hutan. Ia lahir sebagai anak sulung dari pihak ayahnya, namun anak kesekian dari pihak ibunya. Keluarga bapak terbilang cukup miskin. Sejak kecil bapak diharuskan bekerja keras oleh orangtuanya. Pagi ke sawah, lalu sambung sekolah. SIangnya memandikan kerbau di kali, lalu mencari rumput untuk sapi. Sore hingga malam hari bapak menyiapkan dagangan untuk dijual oleh ibunya pagi-pagi sekali.
Orangtua bapak tidak begitu mengerti apa gunanya anak sekolah. Bagi mereka, sawah dan ternak lebih penting daripada buku dan ilmu. Agaknya mereka tidak begitu mendukung bapak bersekolah. Konon katanya, bapak sering mencuri-curi waktu untuk membaca buku. Jika sampai orangtuanya tahu, rotan akan menyambar tanpa ba-bi-bu. Hal ini membuat saya selalu membayangkan bapak adalah bocah lugu yang haus ilmu di masa kanak-kanaknya.
Hidup yang demikian keras membuat bapak tumbuh menjadi seorang pekerja keras, pantang menyerah, dan berwatak ‘keras’. Sejak kecil, ia tahu bahwa segala sesuatu hanya bisa diperoleh melalui kerja keras. Kerja keras inilah yang membuat anak desa macam bapak kemudian mampu menuntut ilmu di Ibukota. Kerja keras inilah yang membuat bapak menjadi pegawai negeri sipil di sana. Kerja keras inilah yang membuat karir bapak gemilang adanya. Kerja keras inilah yang mempertemukan bapak dengan ibu, katanya. Kerja keras inilah yang membuat bapak mempunyai anak berjumlah lima. Salah satu di antaranya adalah saya.
Relasi dengan anak-anak
Meski gemilang berelasi dengan pekerjaan, relasi bapak dengan anak-anaknya justru sebaliknya. Saya agak sedih mengenang relasi bapak dengan anak-anaknya. Bapak adalah tipikal orangtua yang kaku dan tidak tahu cara bergaul dengan anak-anaknya. Bapak terlalu sibuk bekerja dan jarang terlihat batang hidungnya di rumah. Untuk mengendalikan anak-anaknya yang berjumlah lima, bapak membuat pelbagai macam aturan rumah yang harus ditaati oleh semua. Banyak larangan dan aturan yang diperlakukan. Mulai dari bangun jam sekian, tidak ada uang jajan, pulang jam sekian, belajar jam sekian, tidak boleh nonton TV selain akhir pekan, bicara dengan yang lebih tua harus sopan, setiap anak memiliki tugas membersihkan rumah pada sore hari, hingga hal kecil seperti menerima telepon harus berbicara bak operator telepon genggam.
Entah mengapa, sejak kecil saya merasa rumah saya seperti biara dan bapak menjadi simbol hukum di sana. Ibu sendiri suka bilang, “Aja nakal! Mengko bapak nyanyi lho! ” Hal ini bukan kiasan atau mantra semata agar saya dan saudara-saudara saya patuh pada mereka. Hal ini benar-benar nyata! Jika kami sedikit saja melanggar aturan, bapak akan marah pada kami dan memberi hukuman. Bapak pernah menghukum saya dan kakak saya yang enggan tidur siang dengan menyuruh kami pergi dari rumah dan baru boleh pulang saat maghrib. Bapak pernah menghadiahi saya 3 sabetan selang hanya karena saya bertengkar dengan kakak saya (sementara itu kakak saya “selamat” dan kembali bermain entah di mana). Bapak pernah mencambuki saya dengan gesper karena main saat jam belajar. Ia bahkan pernah menyepak saya karena pulang larut malam. Semua itu ia lakukan jika saya melanggar aturan. Ketika masih kecil, kami jadi takut dengan bapak karenanya. Secara khusus, saya sendiri membenci hal itu. Saya benci segala macam aturan yang menyebabkan saya harus dihukum. Kenyataan bahwa saya yang selalu jadi sasaran hukuman diantara para saudara menambah parah hal ini.
Dalam hal berkomunikasi dengan anak, bapak cenderung menggunakan gaya satu arah. Jika bapak ada di rumah, ia suka menyuruh ibu menggumpulkan anak-anak di ruang tamu. Di tempat itu, bapak akan duduk di singgahsananya dan kami berlima di lantai saja. Ia memberi beberapa wejangan macam Sabda Padhita Ratu selama sekitar satu jam Setelah selesai, ia akan bertanya pada kami, “Ada pertanyaan?” Yang terjadi kemudian, kami semua diam sampai bapak menyuruh kami pergi lalu merokok seorang diri.
Hal lain yang saya ingat tentang bapak ialah bagaimana bapak menuntut setiap anaknya untuk berprestasi. Agaknya ia punya obsesi tersendiri karena pengalamannya di masa kecil. Dari kelima anak-anaknya, yang paling merasakan dampak obsesi bapak adalah saya. Sejak kecil bapak menuntut saya untuk memiliki ilmu lebih dibanding anak-anak sebaya dan para saudara. Setiap sore bapak akan menyuruh saya belajar di dekatnya dan mengerjakan berbagai macam soal ilmu alam dan matematika. Sekali dua kali, bapak mengajari saya belajar. Sayangnya, ia tidak mengajari saya untuk menyukai belajar. Saya lebih suka bermain dan bermalas-malasan tinimbang berkutat dengan huruf dan angka.
Bapak terkadang melobi guru saya supaya saya sering ikut lomba. Katanya, supaya saya makin termotivasi dalam hal berprestasi. Sebenarnya saya sangsi, jangan-jangan ini karena obsesi pribadi. Tapi karena disuruh, mau bagaimana lagi. Memang, semua yang diharapkan bapak selalu mampu saya wujudkan. Lomba ilmu alam segala tingkat saya sikat. Beberapa di antaranya mendapat juara pertama. Melelahkan memang dan semua ini saya lakukan hanya demi bapak. Meski begitu, bapak tidak pernah terlihat bangga. Dia selalu diam saja melihat saya juara. Dia tidak pernah memberi pujian, apalagi hadiah. Malahan, kata-kata yang selalu terdengar tiap saya juara hanyalah sebuah komando yang berbunyi, “Sinau meneh!”
Entah mengapa semua hal yang dilakukan bapak di masa kecil membuat saya selalu membayangkan raksasa. Raksasa yang tengah meraung untuk mencari mangsa. Dan mangsanya adalah seorang bocah kecil bernama ‘saya’.
Memberontak
Aturan ketat sudah dijalani. Prestasi gemilang sudah saya raih. Namun sikap dan reaksi bapak tidak sesuai dengan apa yang selama ini saya harapkan. Saya kecewa. Sebagai seorang anak, saya merasa tidak dicintai. Mulailah saya melakukan berbagai macam pemberontakan. Aturan rumah perlahan-lahan saya hiraukan. Saya mulai suka bangun lambat-lambat dan pulang ke rumah telat. Tugas harian rumah tidak lagi saya kerjakan. Saya jadi malas-malasan belajar. Saya lebih suka bermain dengan teman-teman di luar rumah. Saya bahkan mulai berani mengambil uang sisa belanja ibu untuk membeli mainan atau sekedar jajan di pinggir jalan.
Tidak hanya itu saja, saya juga memberontak dengan aturan-aturan di sekitar saya. Di sekolah, saya memanjang rambut saya sebagai simbol pemberontakan. Di jalan, saya suka membuang sampah sembarangan. Di warung sekitar, saya gemar nguntili barang dagangan. Segala hal yang menginggatkan saya pada bapak tanpa sadar juga saya jauhi. Saya enggan untuk berbicara dengan pihak-pihak otoritas di mana saja. Bagi saya, mereka seperti bapak saja. Bisanya mengatur tanpa mau ditegur. Bisanya menyalahkan tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kalau kita benar, mereka tidak pernah mau mengakui dan tetap keukeuh pada dir seperti orang tuli.
Pernah satu hari saya nekat mengambil uang di lemari orangtua saya. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai juta-an. Tindakan saya dipicu karena melihat teman-teman saya yang selalu mendapat hadiah tiap mereka juara. Beberapa di antaranya bahkan mendapat mainan yang sangat mahal hanya karena mereka mendapat nilai bagus saat ulangan. Saya iri pada mereka. Mereka bisa mendapat hadiah dengan prestasi yang sudah biasa bagi saya. Sementara saya? Minta saja tidak didengarkan, apalagi diberi. Dengan uang itu, saya kemudian membeli mainan seharga juta-an seorang diri. Kepada orang-orang di rumah, saya mengaku mendapat mainan itu dari sebuah undian. Kenakalan saya pada akhirnya terungkap juga. Ketika mengetahui kebenaranya, bapak marah pada saya. Ia merasa kecolongan. Bapak menghajar saya habis-habisan saking marahnya. Saya kemudian dipindahkan ke sekolah yang dikepalai oleh bapak agar ia mampu mengawasi saya selama 24 jam.
Apakah saya merasa jera? Tidak. Justru saya makin merasa tidak dicinta. Apa yang dilakukan bapak justru membuat saya semakin membencinya. Semenjak saat itu, saya enggan berbicara dengan bapak. Bertemu saja rasanya ingin muntah. Perlahan tapi pasti, saya mulai menjauhi bapak. Dalam hati, saya berharap Tuhan memberi kesempatan agar saya mampu pergi dan lepas dari bapak. Ketika kesempatan itu muncul, saya benar-benar pergi meninggalkan bapak. Saya pergi merantau ke luar kota. Ngakunya mau menuntut ilmu, nyatanya hanya karena ingin menjauhi bapak. Saya berharap dengan ini, bapak juga melakukan hal yang sama. Pergi dan menjauh dari hidup saya.
Metanoia
Usaha saya untuk menjauhi bapak tidak sesuai rencana. Reaksi bapak tidak sesuai dengan ekspetasi saya. Bukannya menjauh, saya merasa bapak malah makin merapat pada saya. Setiap ada kesempatan bertemu, bapak selalu mencari cara agar dia dapat berbicara pada saya. Awalnya saya merasa benar-benar tidak nyaman. Dalam hati saya bertanya-tanya, “Ini orang maunya apa sih?” Perlahan tapi pasti, hati saya yang terlanjur keras akhirnya luluh juga. Hati saya luluh karena segala hal yang bapak lakukan pada saya. Hal itu bukan sesuatu yang besar. Hal itu adalah hal-hal sederhana dan nyata.
Saya ingat setelah peristiwa dimarahi bapak, saya pindah ke sekolah yang dikepalai oleh bapak sendiri. Setiap hari saya selalu berangkat dan pulang diantar oleh bapak dengan Honda-nya. Pengalaman sederhana, namun membuat saya kembali merasa terharu dan bahagia. Ketika mengingat peristiwa itu, saya merasa sangat dekat dengan bapak. Dalam hati saya juga terheran-heran karena bapak masih mau memboncengkan orang yang telah mencuri uangnya untuk hal yang tidak berguna.
Dalam rencana pelarian, bapaklah yang selalu mengantar saya saat saya harus kembali ke asrama di luar kota. Biasanya dia akan mengantar saya sampai ke dalam bus. Di sana dia akan memberkati saya (dan memberi beberapa wejangan seperti biasanya) sebelum akhirnya keluar dan menunggu di trotoar. Bapak akan setia berdiri di sana dan memandang ke arah jendela bus hingga bus saya berangkat. Diam-diam di dalam bus, saya suka meneteskan air mata karena terharu melihat sikap bapak yang demikian.
Saya juga teringat bagaimana bapak selalu menawari saya makanan ketika saya berlibur di rumah. Waktu itu saya selalu menolak dengan berbagai alasan dengan tujuan agar tidak dekat dengan bapak karena masih sangat marah dengannya. Ketika mengingat pengalaman dengan bapak tersebut, saya merasa tertohok. Saya baru menyadari bahwa dengan caranya sendiri, bapak berusaha minta maaf dengan saya. Bapak rupanya sangat menyayangi saya, meski saya telah sangant mengecewakannya.
Ketika menyadari hal-hal tersebut, saya semakin bersyukur memiliki bapak seperti bapak. Banyak hal yang bapak ajarkan pada saya sepanjang hidupnya. Bagi saya, bapak mendidik saya dengan penuh aturan supaya saya mampu memahami bahwa kemerdekaan sejati bukan berarti semau diri, tapi soal kebebasan di hati. Bapak mengajari saya belajar tanpa mengajari saya menyukainya, hanya agar saya menjadi pribadi yang realistis. Bahwa segala hal di dunia ini tidak pernah berjalan sesuai dengan keinginan.
Namun dari semua hal tersebut, ada satu hal yang paling utama. Bapak mengajari saya untuk bagaimana caranya mencintai dengan tulus hati. Tindakan-tindakannya yang sederhana memperlihatkan bentuk cinta yang tak jemu-jemu. Saya bersyukur memiliki bapak yang mencintai saya dengan tindakan nyata, bukan kata-kata belaka. Ia mencintai saya dengan segala kerapuhannya.
Epilog

Satu masa di hidup saya, orang mengenal saya sebagai si Pemberontak. Melawan segala aturan demi sesuatu yang disebut kemerdekaan.Satu masa di hidup saya, orang banyak memandang saya sebelah mata, karena pemberontakan saya. Satu masa di hidup saya, ada raksasa yang masih mencintai saya dengan segala pemberontakan saya. Raksasa itu dulu pernah membuat sebuah lubang di hati mengangga lebar. Raksasa itu pernah menambalnya dengan sobekan hatinya sendiri. Raksasa itu menyadarkan bahwa saya juga raksasa. Raksasa itu bernama ‘Bapak’

Komentar

Postingan Populer