Sebuah Misteri bernama Jenny
Saya akhirnya merasa bahagia di tahun ini...
Harus saya akui semenjak tahun 2018 ini dimulai, saya belum pernah merasa bahagia. Senang dan gembira, mungkin iya. Namun bahagia, tidak. Saya merasa senang dan gembira beberapa kali, namun tidak penuh. Kegembiraan dan kesenangan saya tidak penuh lantaran saya tidak bahagia. Saya tidak tahu kenapa. Saya belum tahu kenapa. Sampai suatu pesan di LINE menyadarkan saya apa yang membuat saya tidak bahagia selama ini. Saya tidak bahagia karena terhalang sebuah rasa yang menyakitkan...
Namanya Rindu...
Saya tidak bahagia karena saya merindukan seseorang. Namanya Jennifer Hartanto. Saya suka memanggilnya 'Jenny'. Kalau dulu saya yang pergi, kini dia yang tidak ada di sini. Jenny tengah ada di negeri kangguru untuk studi. Sama seperti saya yang dulu pergi untuk memastikan ideologi dan mimpi.
Saya rindu pada Jenny. Rindu itu menguat karena bulan Januari. Bulan pertama di awal tahun selalu menjadi waktu bagi kami untuk berjumpa dan menghabiskan waktu bersama. Rasanya membahagiakan. Namun menjelang bulan Januari berakhir, saya belum berjumpa dengan Jenny. Ada banyak hal yang membuat hal ini terjadi; Saya tidak tahu apakah Jenny ada di sini. Saya sibuk dengan pekerjaan saya yang semakin hari semakin meninggi. Saya tenggelam dalam dunia orang dewasa dengan berbagai rapat dan deadlinenya. Saya tenggelam dalam pelbagai dinamika berkomunitas di mana saya berada. Saya tenggelam dalam kelelahan fisik saya. Saya tenggelam dalam itu semua, tanpa menyadari bahwa diri saya tengah kehabisan nafas karena sesuatu yang tak tertahankan.
Saya tenggelam...
Saya terlanjur tenggelam. Kalau dibiarkan mungkin saya mati karena sesak dan habis nafas. Mungkin, bahkan, saya sudah sampai pada tahapan sesak nafas. Tinggal tunggu mati saja. Tapi sepertinya semesta belum mau saya mati. Mati hanya untuk mereka yang sudah selesai urusan dunia. Urusan saya masih menumpuk. Urusan saya masih butuh saya untuk disiksa, hahaha... Semesta belum mau saya mati dan ia memberi saya sebuah keajaiban melalui seorang bernama Jenny. Ya, Jenny, atau Jennifer Hartantto; sahabat, saudara, dan seorang yang punya arti sendiri dalam hidup saya selama ini.
Semesta mengirimkan Jenny.
Jenny tiba-tiba memberitahu pada saya bahwa dia ada di Jakarta [sudah sejak lama]. Jenny tiba-tiba pula mengajak saya untuk berjumpa. Saya terkejut. Dalam hati, ada rasa gembira ketika mendapat kabar darinya. Tanpa ba-bi-bu, saya iya-kan saja. Saya tidak berpikir apa-apa lagi saat itu, kecuali satu: SAYA AKAN BERJUMPA LAGI DENGAN JENNY. Rencananya saya ingin mengajak beberapa sahabat kami untuk ikut berjumpa, tapi apa daya, kesibukan dunia membuat mereka tidak bisa hadir saat hari H.
Meeting point sudah kami tentukan. Letaknya di salah satu mall di dekat jantung Ibukota. Sore hari setelah selesai kuliah, saya langsung bergegas menuju ke sana. Saya tidak ingin mengulang sebuah dosa saya pada Jenny: terlambat. Tidak lama setelah saya tiba, Jenny tiba-tiba muncul dengan tawa ramai yang menjadi khasnya. Harus saya akui, saya merasa canggung saat itu. Saya kangen padanya, tapi tidak tahu harus bersikap macam apa. Akhirnya, saya cuma bisa berkata, "hai" dengan kaku sambil dalam hati meneriaki diri, "Awkwark!!! Hahaha" [Semoga kamu tidak baca posting ini, Jen]
Dalam kecanggungan akan sebuah perjumpaan, kami lantas mencari spot untuk duduk bersama. Setelah memesan kopi dingin untuk memacu adrenalin saya [yang sudah terpacu terlebih dahulu karena Jenny, hahaha], kami mulai saling bercerita tentang hidup kami masing-masing. Jenny bercerita tentang hidupnya di Ausie kini; alasannya dia berada di sana, kebodohannya berada di negeri tetangga [tinggal di Ausie, tapi tetangganya kebanyakan orang Indonesia dan orang kampusnya kebanyakan orang Tionghoa], sukacitanya hidup di sana bersama dua sahabatnya, keminderannya bicara dengan bahasa asing dengan orang di sekitarnya, dan keahliannya masak rebusan untuk sekedar bertahan hidup di negeri orang. Jenny bercerita pula tentang hidupnya yang selama ini tidak saya kenal; keluarganya, cita-citanya, harapannya, dan cowok idamannya [ Rule #1: HARUS LEBIH TINGGI DARI DIA][dan entah kenapa saya merasa terhina dengan syarat utamanya Jenny ini][Saya pendek sebagai seorang laki, bapakkkk].
Jenny bercerita, dan saya hanyut dalam ceritanya. Serius. Saya hanyut mendengarkan ceritanya yang penuh warna itu. Ada rasa bahagia dan syukur yang menjadi satu ketika mendengar Jenny bercerita. Saking hanyutnya, saya kadang tidak tahu harus bicara apa. Saya juga bercerita tentang hidup saya. Saya tidak tahu apakah menarik baginya atau tidak; hidup seorang selibat, ideologi seorang pemimpi, realitas seorang penyendiri. Saya tidak tahu apakah berguna baginya atau tidak; kesibukan dan rapat yang ada di sekeliling saya, wanita macam apa yang bisa membuat saya jatuh cinta [idealis sekali, pokoknya], dan harapan egois saya yang tidak seberapa. Saya tidak tahu. Saya tidak peduli. Yang saya pedulikan saat itu cuma satu: seorang sahabat yang ada di sisi saya saat itu. Namanya Jenny. Itu saja.
Perjumpaan kami sebenarnya sebuah perjumpaan yang sederhana. Kami bertemu, bicara panjang-panjang dan lebar-lebar mengenai hidup kami masing-masing kini sembari minum es kopi, makan-makan, bicara lagi, lalu pulang. Sangat sederhana. Namun entah mengapa, dalam kesederhanaan akan sebuah perjumpaan, saya merasa sangat bahagia. Saya bahagia bisa berjumpa lagi dengan Jenny. Merasakan kehadirannya setelah hiatus sekian lama membuat diri saya hidup lagi, rasanya. Kehadirannya saat itu membuat saya dapat tersenyum lagi, tertawa lagi, bercerita kembali... dari hati.
Hingga saat saya mengantarkan Jenny untuk pulang, saya tidak tahu kenapa kehadirannya membuat saya bisa merasa hidup lagi. Kenapa hanya melalui momen jumpa sederhana saya bisa tersenyum lagi di bulan Januari? Bidang filsafat yang tengah saya geluti menggoda saya untuk mencari alasan rasional dan logis untuk perubahan dalam diri. Namun harus saya akui, saya belum bisa menjawab hingga kini: Kenapa Jenny membuat saya bahagia kembali. Pertanyaan-pertanyaan itu hingga kini tetap menjadi sebuah misteri dalam hati. Misteri yang tidak perlu saya jawab, cukup saya alami, nikmati, dan syukuri...
Saya bersyukur bisa berjumpa kembali dengan Jenny...
Saya bersyukur bisa saling berbagi dengan sahabat saya yang satu ini...
Saya bersyukur bisa tersenyum lagi karena kehadiran seorang kakak yang absurd ini...
Saya bersyukur...
Seperti syukur banyak manusia di bumi ketika mampu melihat Gerhana Bulan Merah di malam itu juga...
Mereka tidak mengerti, namun menikmati dan mensyukuri...
Saya terlanjur tenggelam. Kalau dibiarkan mungkin saya mati karena sesak dan habis nafas. Mungkin, bahkan, saya sudah sampai pada tahapan sesak nafas. Tinggal tunggu mati saja. Tapi sepertinya semesta belum mau saya mati. Mati hanya untuk mereka yang sudah selesai urusan dunia. Urusan saya masih menumpuk. Urusan saya masih butuh saya untuk disiksa, hahaha... Semesta belum mau saya mati dan ia memberi saya sebuah keajaiban melalui seorang bernama Jenny. Ya, Jenny, atau Jennifer Hartantto; sahabat, saudara, dan seorang yang punya arti sendiri dalam hidup saya selama ini.
Semesta mengirimkan Jenny.
Jenny tiba-tiba memberitahu pada saya bahwa dia ada di Jakarta [sudah sejak lama]. Jenny tiba-tiba pula mengajak saya untuk berjumpa. Saya terkejut. Dalam hati, ada rasa gembira ketika mendapat kabar darinya. Tanpa ba-bi-bu, saya iya-kan saja. Saya tidak berpikir apa-apa lagi saat itu, kecuali satu: SAYA AKAN BERJUMPA LAGI DENGAN JENNY. Rencananya saya ingin mengajak beberapa sahabat kami untuk ikut berjumpa, tapi apa daya, kesibukan dunia membuat mereka tidak bisa hadir saat hari H.
Meeting point sudah kami tentukan. Letaknya di salah satu mall di dekat jantung Ibukota. Sore hari setelah selesai kuliah, saya langsung bergegas menuju ke sana. Saya tidak ingin mengulang sebuah dosa saya pada Jenny: terlambat. Tidak lama setelah saya tiba, Jenny tiba-tiba muncul dengan tawa ramai yang menjadi khasnya. Harus saya akui, saya merasa canggung saat itu. Saya kangen padanya, tapi tidak tahu harus bersikap macam apa. Akhirnya, saya cuma bisa berkata, "hai" dengan kaku sambil dalam hati meneriaki diri, "Awkwark!!! Hahaha" [Semoga kamu tidak baca posting ini, Jen]
Dalam kecanggungan akan sebuah perjumpaan, kami lantas mencari spot untuk duduk bersama. Setelah memesan kopi dingin untuk memacu adrenalin saya [yang sudah terpacu terlebih dahulu karena Jenny, hahaha], kami mulai saling bercerita tentang hidup kami masing-masing. Jenny bercerita tentang hidupnya di Ausie kini; alasannya dia berada di sana, kebodohannya berada di negeri tetangga [tinggal di Ausie, tapi tetangganya kebanyakan orang Indonesia dan orang kampusnya kebanyakan orang Tionghoa], sukacitanya hidup di sana bersama dua sahabatnya, keminderannya bicara dengan bahasa asing dengan orang di sekitarnya, dan keahliannya masak rebusan untuk sekedar bertahan hidup di negeri orang. Jenny bercerita pula tentang hidupnya yang selama ini tidak saya kenal; keluarganya, cita-citanya, harapannya, dan cowok idamannya [ Rule #1: HARUS LEBIH TINGGI DARI DIA][dan entah kenapa saya merasa terhina dengan syarat utamanya Jenny ini][Saya pendek sebagai seorang laki, bapakkkk].
Jenny bercerita, dan saya hanyut dalam ceritanya. Serius. Saya hanyut mendengarkan ceritanya yang penuh warna itu. Ada rasa bahagia dan syukur yang menjadi satu ketika mendengar Jenny bercerita. Saking hanyutnya, saya kadang tidak tahu harus bicara apa. Saya juga bercerita tentang hidup saya. Saya tidak tahu apakah menarik baginya atau tidak; hidup seorang selibat, ideologi seorang pemimpi, realitas seorang penyendiri. Saya tidak tahu apakah berguna baginya atau tidak; kesibukan dan rapat yang ada di sekeliling saya, wanita macam apa yang bisa membuat saya jatuh cinta [idealis sekali, pokoknya], dan harapan egois saya yang tidak seberapa. Saya tidak tahu. Saya tidak peduli. Yang saya pedulikan saat itu cuma satu: seorang sahabat yang ada di sisi saya saat itu. Namanya Jenny. Itu saja.
Perjumpaan kami sebenarnya sebuah perjumpaan yang sederhana. Kami bertemu, bicara panjang-panjang dan lebar-lebar mengenai hidup kami masing-masing kini sembari minum es kopi, makan-makan, bicara lagi, lalu pulang. Sangat sederhana. Namun entah mengapa, dalam kesederhanaan akan sebuah perjumpaan, saya merasa sangat bahagia. Saya bahagia bisa berjumpa lagi dengan Jenny. Merasakan kehadirannya setelah hiatus sekian lama membuat diri saya hidup lagi, rasanya. Kehadirannya saat itu membuat saya dapat tersenyum lagi, tertawa lagi, bercerita kembali... dari hati.
![]() |
| Anak Jaman Now: Maen HP mulu |
Saya bersyukur bisa berjumpa kembali dengan Jenny...
Saya bersyukur bisa saling berbagi dengan sahabat saya yang satu ini...
Saya bersyukur bisa tersenyum lagi karena kehadiran seorang kakak yang absurd ini...
Saya bersyukur...
Seperti syukur banyak manusia di bumi ketika mampu melihat Gerhana Bulan Merah di malam itu juga...
Mereka tidak mengerti, namun menikmati dan mensyukuri...

Komentar
Posting Komentar