TGIF: Thanks God It's Friday
![]() |
| Ngakak banget gaya mereka XD |
Kemarin Jumat saya bangun siang. Bukan tidak sengaja seperti biasa. Bangun kemarin memang saya sengaja. Saya masih mengantuk lantaran menjadi 'kalong' semalaman. Rasionalisasi yang saya gunakan; "Mumpung masih liburan..." Klasik sekali.
Ketika saya baru bangun, sebuah pesan mendadak datang pada saya. Jujur, pada awalnya saya merasa malas melihat pesan tersebut. Enam bulan terakhir hidup saya selalu dipenuhi oleh pesan mendadak dari banyak orang yang intinya adalah untuk pekerjaan atau studi. Saya malas karena saya pikir pesan itu adalah pesan-pesan yang sama meneror saya selama enam bulan. Namun karena badan saya terlalu terbiasa dengan sebuah gerakan membuka pesan begitu ada yang berbunyi, saya membuka pesan tersebut.
Betapa terkejutnya saya ketika tahu bahwa pesan tersebut tidak sama dengan pesan-pesan sebagaimana yang ada di benak saya. Pesan itu dari manusia yang lama tak saya jumpa: DWITO. Manusia bajingan satu ini tiba-tiba saja menghubungi saya dan mengajak saya untuk berjumpa. Saya tahu dia akhir-akhir ini sibuk dengan segala urusan pekerjaan dan kantornya dan adalah sebuah 'kemewahan' manusia ini mengontak saya untuk berjumpa. Tanpa pikir panjang, saya iya-kan ajakannya. Tak lupa saya mengajak beberapa manusia lama yang tak jumpa untuk bertemu.
Kami sepakat akan berjumpa di Sarinah sore itu. Dari beberapa yang saya hubungi, hanya STEVEN yang bisa datang. Saya tidak masalah. Namun cukup sedih juga karena JENNY tidak bisa. Padahal saya juga sangat ingin berjumpa dengan manusia satu ini. Jakarta tanpa dirinya bukanlah Jakarta yang saya kenal. Akhirnya, bermodalkan rasa rindu berjumpa, tanda tanya, dan sahabat lama seadanya, saya berangkat ke Sarinah Jumat sore itu...
Setelah menempuh perjalanan yang tidak lancar, namun juga tidak macet, saya tiba di tempat janjian: Caribou Caffe. Tidak ada alasan khusus kenapa tempat ini menjadi pilihan saya dan Dwito bertemu. Cuma hanya karena tempat itu yang saya tahu di daerah Sarinah yang punya beribu tempat nongkrong di sana. Awalnya saya merasa was-was. Saya takut Dwito belum datang atau lupa, seperti saya biasanya. Saya ingin mengontak, namun kuota dan pulsa saya tak bersisa saat itu juga. Sial. Saya hanya berdoa agar Dwito sudah tiba, sesederhana itu saja dan ternyata...
Dwito sudah tiba di sana.
Si manusia ajaib ini sedang duduk di salah satu pojok Caffe. Saya hampiri dia dan menyapa; " ASU"... Dia balas pula, "ANJING"... Sapaan kami mungkin membuat orang sekitar tidak nyaman, namun kami tidak peduli. Umpatan bagi kami bukanlah sebuah kutuk. Umpatan buat kami adalah sebuah doa syukur yang tersamar oleh kata yang dianggap oleh masyarakat sebagai yang buruk rupa. Kami saling mengumpat sebagai tanda kedekatan, itu sederhananya.
Setelah puas mengumpat dan membeli segelas kopi dingin, kami mulai bercerita. Saya bercerita tentang hidup saya sekarang: asrama-kuliah, doa-kerja, gereja-dunia, dan lain sebagainya. Dwito sendiri bercerita tentang dunianya sekarang ini; DUNIA KERJA. Cukup menarik, namun sayang kurang bisa saya pahami lantaran itu adalah dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia saya. Saya mendengarkan dan dia terus bercerita. Dia bercerita hingga sampailah pada sebuah titik pengakuan alasan mengapa dia mengundang saya berjumpa. Alasannya sederhana: dia ingin bercerita. Dwito ingin bercerita tentang dunia kerja yang tidak sesuai dengan harapannya. Dwito ingin bercerita mengenai kejenuhannya bekerja. Dwito ingin bercerita mengenai rencananya untuk bekerja di tempat lain yang dirasanya lebih baik. Dwito ingin bercerita tentang pilihan yang tengah dan akan dia ambil. Dia hanya ingin bercerita dan didengarkan oleh saya.
Saya mendengarkannya dan betapa terkejutnya saya mengetahui hal tersebut. Saya terkejut, lebih tepatnya tidak menyangka. Saya tidak menyangka bahwa saya dipercaya olehnya untuk mengetahui semua cerita itu, Bagi saya, mengetahui sebuah cerita hidup seseorang adalah sebuah rahmat yang istimewa; kepercayaan. Untuk hal ini, saya mensyukurinya saja.
Ketika kami sedang asik bercerita, Steven muncul tiba-tiba. Gayanya khas; jacket merah lawas dipadu dengan jeans biru tempo dulu. Karena saya dan Dwito lapar, kami memutuskan untuk pergi mencari makan di salah satu spot biasa saya nongkong bersama teman kuliah; Bangi Coffe. Di sana, seperti biasa, saya, Dwito, dan Steven duduk dan saling bercerita tentang kehidupan kami masing-masing, sesekali nostalgia, sesekali saling meng-apresasi satu dengan yang lain. Sederhana, namun bagi saya sendiri, saya merasa bahagia. Bisa berjumpa, duduk bersama, dan saling bercerita dengan mereka yang selama ini telah berjasa dalam satu fase hidup saya.
Jujur, saya ingin hidup di momen itu kembali. Saya ingin agar waktu berjalan lebih lambat agar perjumpaan itu terasa lebih lama. Namun tentu saja hal itu tidak bisa. Menjelang tengah malam, Dwito harus pulang mengejar kereta termalam. Dia harus pulang dan berjumpa dengan keluarganya. Steven juga. Saya mengantar mereka pulang, sebelum akhirnya kembali ke kehidupan saya yang tidak mampu dipahami orang banyak.
Sulit memang, namun perjumpaan dengan Dwito dan Steven Jumat itu membuat saya tersadar bahwa dunia yang tengah saya geluti kini adalah dunia yang saya pilih berdasarkan idealisme masa muda saya... Saya harus mempertanggungjawabkannya... Saya harus mensyukurinya... Saya harusnya bahagia...
Dan saya kembali berbahagia berkat mereka
Thanks God, It's Friday

Komentar
Posting Komentar